Oleh: ubai | Agustus 11, 2009

komentar…!!!!

Oleh: ubai | Desember 2, 2008

Jangan Mempersulit Diri

stress_one
   Andaikata kita mau jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi mengarang, mendramatisasi, dan mempersulit diri. Sebagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi perasaan dan pikiran sendiri. Selain tidak pada tempatnya, pasti ia juga membuat masalah akan menjadi lebih besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada kenyataan yang aslinya, Tentu pada akhirnya kita akan merasa jauh lebih nelangsa, lebih repot di dalam menghadapinya/mengatasinya.

       Orang yang menghadapi masa pensiun, terkadang jauh sebelumnya sudah merasa sengsara. Terbayang di benaknya saat gaji yang kecil, yang pasti tidak akan mencukupi kebutuhannya. Padahal, saat masih bekerja pun gajinya sudah pas-pasan. Ditambah lagi kebutuhan anak-anak yang kian membengkak, anggaran rumah tangga plus listrik, air, cicilan rumah yang belum lunas dan utang yang belum terbayar. Belum lagi sakit, tak ada anggaran untuk pengobatan, sementara umur makin menua, fisik kian melemah, semakin panjang derita kita buat, semakin panik menghadapi pensiun. Tentu saja sangat boleh kita memperkirakan kenyataan yang akan terjadi, namun seharusnya terkendali dengan baik. Jangan sampai perkiraan itu membuat kita putus asa dan sengsara sebelum waktunya.

        Begitu banyak orang yang sudah pensiun ternyata tidak segawat yang diperkirakan atau bahkan jauh lebih tercukupi dan berbahagia daripada sebelumnya. Apakah Allah SWT. yang Mahakaya akan menjadi kikir terhadap para pensiunan, atau terhadap kakek-kakek dan nenek-nenek? Padahal, pensiun hanyalah salah satu episode hidup yang harus dijalani, yang tidak mempengaruhi janji dan kasih sayang Allah.

         Maka, di dalam menghadapi persoalan apa pun jangan hanyut tenggelam dalam pikiran yang salah. Kita harus tenang, menguasai diri seraya merenungkan janji dan jaminan pertolongan Allah Swt. Bukankah kita sudah sering melalui masa-masa yang sangat sulit dan ternyata pada akhirnya bisa lolos?

        Yakinlah bahwa Allah yang Maha tahu segalanya pasti telah mengukur ujian yang menimpa kita sesuai dengan dosis yang tepat dengan keadaan dan kemampuan kita. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan” (QS Al-Insyirah [94]:5-6). Sampai dua kali Allah Swt menegaskan janji-Nya. Tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus mendapatkan kesulitan karena dunia bukanlah neraka. Demikian juga tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus memperoleh kelapangan dan kemudahan karena dunia bukanlah surga. Segalanya pasti akan ada akhirnya dan dipergilirkan dengan keadilan Allah Swt.

Oleh: ubai | September 25, 2008

Oleh: ubai | September 15, 2008

hari-hari yang melelahkan…

Kami tinggal di daerah perbatasan Jakarta dan Jawa Barat, lokasi yang sangat strategis bagi para investor atau para pebisnis untuk mengembangkan bisnisnya. daerahnya sudah sangat ramai, penduduknya sudah sangat padat mereka datang dari segala penjuru daerah baik dari Jawa, Sumatera kalimantan dan lain-lain,  daerahnya panas dan berdebu, jalanan semerawut… (pokok ke ora uennnak)… Daerah kami sudah sangat terkenal, apalagi dilingkungan Dephan. Daerah kami akan kembali disebut-sebut jika musim hujan tiba, tahukah anda daerah manakah itu ???…. sudah pasti banyak yang mengetahui,  ” Tambun” sekali lagi Tambun, Hidup Tambun”. Tambun berada di wilayah Kabupaten Bekasi daerah tersebut menurut anggota Dephan dan Mabes TNI sangat identik dengan Perumahan Graha Prima karena Perumahan tersebut berada di wilayah Tambun dan sebagian besar anggota Dephan dan Mabes TNI tinggal di daerah tersebut . kami hidup bersahaja meskipun daerah tempat kami tinggal jaraknya cukup jauh dengan tempat kami bekerja. Apalagi kami yang bekerja di wilayah perbatasan Jakarta selatan dengan wilayah bogor, tepatnya di Pondok Labu, itu sangat jauh sekali, perjalanan kami memakan waktu 1 s.d. 2 jam, sungguh sangat melelahkan…. bangun harus pagi-pagi, berangkat pagi-pagi bahkan sholat subuhpun terkadang harus lebih awal atau di dalam kendaraan…. inilah resiko kami yang tinggal disana, begitu pula sebaliknya, jam pulang kami terkadang paling akhir, sehingga sampai rumahpun paling petang…. dan semua itu harus kami harus lakukan dengan gerakan cepat dan tergesa-gesa, karena kalau gerakan kami lambat tentunya Bus jemputan akan meninggalkan kami, kalau sudah seperti itu pulang akan memakan waktu lebih lama dan ongkos pulang pun tidak sedikit akan kami keluarkan…. pokoke merana lah….

Meskipun demikian kami merasa bangga sebagai orang pinggiran tersebut, apa yang semua kami lakukan setiap hari akan membentuk pribadi-pribadi yang kuat, tahan mental dengan keadaan yang cukup melelahkan… bayangkan saja seandainya ada orang yang berani mengatakan” aah itu hal sepele,biasa-biasa saja itu”, Mhmmm…..coba saja orang tersebut ikut merasakan beberapa hari saja tinggal disana, yang pasti tidak akan mau mengulanginya lagi. kami hanya memohon untuk menghargai kehadiran kami, usaha kami, kerja keras kami, semangat kami, dan berikanlah fasilitas yang baik bagi kami, seperti kendaraan jemputan yang baik, kalau perlu ber AC, (hehehe… nggak ini hanya becanda)… begitulah hari demi hari kami lalui dengan melelahkan, apakah kebiasaan hidup kami ini akan kami lalui hingga kami tua nanti sampai datangnya hari pensiun kami…. entahlah… kami berharap hari-hari yang akan datang akan lebih baik…. semoga….amien

Oleh: ubai | September 8, 2008

Paku…

RENUNGAN

Paku…

 

      Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk menancapkan sebuah paku dip agar belakang setiap kali dia marah…..

     Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Anak itu menyadari bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar….

     Akhirnya tibalah hari dimana anak itu merasa sama sekalibisa mengendalikan amarahnya dan mampu lebih dapat bersabar. Anak tersebut memberitahukan hal ini kepada ayahnya. Kemudian ayahnya mengusulkan agar anak tersebut mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah….

     Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. Hmmmm….kamu telah berhasil dengan baik anakku, tetapi….lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya.

“anakku… ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu akan meninggalkan bekas seperti lubang ini di Hati orang lain…

Duhai anakku…..

     Engkau bisa saja menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi, meski engkau mengucapkan ribuan kali kata maaf, bekas luka tersebut akan tetap ada…. Dan luka karena kata-kata akibat dari kemarahan atau fitnah bahkan gossip/ghibah adalah lebih pedih daripada luka fisik.

Oleh: ubai | September 8, 2008

Cinta Ibu dalam sebuah Lonceng

CINTA IBU Dalam Sebuah Lonceng.

 

Di sebuah desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit.

Sang ibu seringkali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam, dan banyal lagi yang membuat ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun begitu , ibu tua itu selalu berdoa agar anaknya dapat sadar dan bertobat atas perbuatannya. Suatu hari si anak kembali mencuri di sebuah rumah penduduk desa. Namun malang nasib anak itu, dia tertangkap oleh penduduk , lalu ia dibawa kehadapan pengadilan kerajaan untuk diadili sesuai dengan kebiasaan kerajaan.

Setelah ditimbang berdasarkan sudah seringnya ia mencuri, maka tanpa ampun lagi si anak laki tersebut dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman hukuman tersebut disebarkan keseluruh desa. Hukuman pancung akan dilaksanakan esok harinya di depan rakyat desa  dan kerajaan tepat pada saat lonceng kerajaan berdentang menandakan pukul enam pagi.

Berita hukuman itu akhirnya sampai ke telinga ibunya. Ia menangis meratapi anak yang sangat dicintainya, sambil berdoa kepada Allah SWT. Dengan tertatih-tatih si ibu tersebut mendatangi Raja dan memohon agar anaknya dibebaskan, tapi keputusan sudah bulat, si anak tetap harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur si ibu kembali ke rumah.

Keesokan harinya, di tempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya, dan si anak tadi sudah pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang di mata si anak wajah ibunya yang sudah tua, tanpa terasa dia menangis menyesali perbuatannya.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai pada waktu yang ditentukan, lonceng kerajaan belum juga berdentang. Suasana mulai berisik. Sudah lewat sepuluh menit dari waktunya. Akhirnya didatangilah petugas yang membunyikan lonceng di kerajaan. Penjaga yang membunyikan lonceng tersebut juga mengaku heran, karena sudah sedari tadi dia menarik lonceng, tapi suara dentangnya tidak terdengar.

Ketika mereka sedang terheran-heran, tiba-tiba dari tali yang dipegangnya untuk membunyikan lonceng mengalir darah, darah tersebut datangnya dari atas, berasaldari tempat dimana lonceng diikat. Dengan jantung berdebar-debarseluruhrakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah itu. Tahukah anda apa yang terjadi ? ternyata di dalam lonceng besar itu ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi, sebagai gantinya kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng.

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng tersebut serta memeluk besi di dalam lonceng, untuk menghindari hukuman pancung anaknya. Sungguh cinta ibu kepada anaknya hingga akhir hayatnya.

Oleh: ubai | Agustus 14, 2008

Latihan PBB (Baris-berbaris) dalam bahasa Arab

تدريبات للصفوف

LATIHAN BARIS-BERBARIS

 

Satu langkah kedepan Jalan

خطوة للأمام خذ

Hormat Grak

سلام  خذ

Dua Langkah ke kiri jalan

خطوتان لليسار خذ

Tegak Grak

أمامك

Tiga langkah ke kanan jalan

ثلاث خطوات

 لليمين خذ

Siap Grak

إستعد

Tiga langkah ke kiri jalan

ثلاث خطوات  لليسار خذ

Istirahat di Tempat Grak

إستريح

Dua Langkah ke kanan, jalan

خطوتان لليمين خذ

Hadap Kanan, Grak

لليمين در

Dua Langkah ke kiri jalan

خطوتان لليسار خذ

Hadap, Kiri Grak

لليسار در

Letnan….. tampil ke depan

ملازم…حاضر إلى الأمام

Balik Kanan Grak

للخلف در

Lapor…siap menerima perintah

تعظيم سلام… إستعد للأمر

Jalan ditempat Grak

مكانك سر

Laksanakan latihan baris-berbaris,

قد تدريبات للصفوف

في المكان

Henti Grak

مكانك كف

Latihan PBB telah dilaksanakan, laporan selesai !

تدريبات للصفوف قد إنتهت

Lencang Kanan Grak

يمين تراصف

Terima kasih, kembali ketempat!

شكرا , تعود إلى المكان

Setengah Lengan Lencang Kanan Grak

مختصر يمينا تراصف

Maju Jalan

أمامك سر

Satu Langkah ke kanan Jalan

خطوة لليمين حذ

Henti Grak

أمامك كف

Satu Langkah ke Kiri Jalan

خطوة لليسار خذ

Bubar Jalan !!

إنصرف

 

 

 

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.